Pasar otomotif Indonesia selama 20 tahun terakhir nyaris tak berubah dalam hal pola konsumsi. Mobil dengan harga di bawah Rp300 juta masih menjadi primadona masyarakat. Dari Toyota Avanza hingga Honda Brio, segmen ini terus mendominasi angka penjualan, sementara mobil dengan harga di atas Rp500 juta justru semakin menyusut peminatnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Daya Beli Masyarakat Stagnan Selama 20 Tahun
Menurut Jongkie Sugiarto, Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), daya beli masyarakat Indonesia terhadap mobil nyaris tidak berubah selama dua dekade terakhir. Dengan pendapatan per kapita sekitar US$5.000 per tahun, atau setara dengan Rp75 juta (dengan asumsi kurs Rp15.000 per dolar AS), rata-rata kemampuan membeli mobil hanya sekitar Rp300 juta ke bawah.
“20 tahun terakhir begitu. Mobil Rp500-600 juta makin kecil pangsa pasarnya, justru yang laku Rp300 juta ke bawah,” jelas Jongkie dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Rabu (16/7/2025).
Ini menjelaskan mengapa sebagian besar produsen mobil di Indonesia tetap fokus memproduksi kendaraan di segmen low MPV (Multi Purpose Vehicle) dan LCGC (Low Cost Green Car).
Mobil Paling Laku Masih di Kisaran Rp140 – 300 Juta
Mobil-mobil yang paling banyak diminati konsumen Indonesia masih berasal dari segmen entry-level hingga kelas menengah. Beberapa model yang mendominasi pasar di antaranya:
-
Toyota Avanza: Rp240 – Rp300 jutaan
-
Honda Brio: Rp190 – Rp280 jutaan
-
Toyota Calya & Daihatsu Sigra (LCGC): Rp140 – Rp200 jutaan
Model-model ini dikenal karena harganya yang terjangkau, biaya perawatan rendah, serta daya angkut yang cocok untuk keluarga Indonesia.
Mobil Listrik: Makin Dilirik, Tapi Belum Terjangkau
Meski tren mobil listrik mulai terlihat di jalanan perkotaan, harganya yang relatif mahal membuat segmen ini belum bisa bersaing dengan kendaraan konvensional.
“Mobil listrik memang diminati, tapi kembali lagi, terjangkau atau tidak harganya?” ungkap Jongkie.
Saat ini, mobil listrik termurah yang tersedia di pasar berkisar Rp400-500 juta, sementara model yang lebih premium seperti Tesla bahkan bisa mencapai Rp1 miliar lebih. Alhasil, pangsa pasar mobil listrik di Indonesia baru menyentuh angka 5%, yang sebagian besar berasal dari kalangan atas atau institusi.
Mengapa Mobil di Atas Rp500 Juta Tak Laku?
Mobil dengan harga di atas Rp500 juta makin sulit dijual massal karena beberapa faktor utama:
-
Rasio cicilan terhadap gaji terlalu tinggi, bahkan untuk kalangan menengah atas.
-
Biaya pajak dan perawatan juga lebih tinggi, sehingga tidak ekonomis.
-
Kebijakan insentif lebih banyak diberikan pada LCGC dan EV entry level, bukan segmen mewah.
-
Infrastruktur jalan dan parkir di banyak daerah belum mendukung mobil besar dan mahal.
Perlu Terobosan untuk Meningkatkan Daya Beli
Jika ingin mendorong pertumbuhan sektor otomotif ke segmen yang lebih tinggi, diperlukan sejumlah terobosan, antara lain:
-
Kenaikan pendapatan riil masyarakat
-
Insentif pajak untuk mobil listrik dan hybrid
-
Kredit kendaraan yang lebih ringan
-
Investasi pada ekosistem EV dan pabrik lokal
Tanpa perubahan mendasar, maka mobil di bawah Rp300 juta akan terus jadi tulang punggung penjualan, sementara segmen menengah ke atas tetap stagnan.
Kesimpulan
Selama dua dekade terakhir, pasar otomotif Indonesia menunjukkan bahwa harga masih menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian mobil. Mobil dengan harga di bawah Rp300 juta terus mendominasi karena selaras dengan daya beli mayoritas masyarakat. Meskipun tren mobil listrik mulai tumbuh, tingginya harga membuat akses ke segmen ini masih terbatas. Agar pasar otomotif bisa berkembang lebih inklusif dan beragam, diperlukan kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat, memperluas akses kredit, serta mendorong produksi mobil ramah lingkungan dengan harga yang lebih terjangkau.
Sumber : antaranews



