Di tengah lesunya pasar otomotif Korea Selatan, ada satu segmen yang justru bersinar—mobil listrik bekas atau Battery Electric Vehicle (BEV). Laporan terbaru menunjukkan penjualan BEV bekas di negeri ginseng ini meningkat tajam, bahkan melampaui pertumbuhan kendaraan berbahan bakar bensin, diesel, maupun hibrida. Tren ini menarik perhatian karena memberikan gambaran bahwa konsumen mulai mencari alternatif kendaraan listrik yang lebih terjangkau di tengah harga mobil baru yang kian tinggi.
Lonjakan Penjualan BEV Bekas di Awal 2025
Berdasarkan laporan The Chosun Daily, penjualan mobil listrik bekas di Korea Selatan mencapai 10.832 unit selama kuartal pertama 2025. Angka ini memang turun sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024, namun jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2023, terjadi lonjakan hingga 47,4 persen.
Menariknya, di saat penjualan mobil baru di Korea sedang mengalami perlambatan, justru mobil listrik bekas mampu mencatat pertumbuhan signifikan. Hal ini membuat BEV bekas menjadi pilihan yang semakin diminati masyarakat.
Perbandingan dengan Kendaraan Lain
Jika dibandingkan dengan kendaraan lain, pertumbuhan BEV bekas terlihat lebih menonjol:
-
Kendaraan hibrida bekas hanya tumbuh 15,6 persen.
-
Kendaraan bensin bekas turun 3 persen.
-
Kendaraan diesel bekas turun 10,4 persen.
-
Kendaraan berbahan bakar gas turun 8,6 persen.
Dengan data ini, terlihat jelas bahwa kendaraan listrik bekas sedang menjadi bintang di pasar mobil bekas Korea Selatan.
Mengapa Mobil Listrik Bekas Semakin Diminati?
Ada beberapa alasan mengapa mobil listrik bekas kini diminati di Korea Selatan:
-
Harga Lebih Terjangkau
Pada Mei 2025, harga rata-rata mobil listrik bekas tercatat 26,66 juta won atau sekitar Rp 311 juta. Bandingkan dengan harga mobil hibrida bekas yang mencapai 26,26 juta won (Rp 307 juta) dan mobil konvensional sekitar 19,85 juta won (Rp 232 juta). Selisih harga yang semakin tipis membuat konsumen tertarik mencoba BEV. -
Biaya Perawatan Lebih Rendah
BEV memiliki komponen 30–40 persen lebih sedikit dibanding mobil bermesin bensin atau diesel. Artinya, biaya perawatan dan suku cadangnya relatif lebih hemat. -
Keterbatasan Mobil Listrik Baru
Harga mobil listrik baru yang tinggi dan minimnya infrastruktur pengisian daya membuat konsumen melirik opsi mobil bekas sebagai solusi sementara yang lebih ekonomis.
Perubahan Persepsi Masyarakat Korea Selatan
Secara budaya, mobil bekas di Korea Selatan sering dianggap sebagai barang usang yang nilainya rendah. Namun, tren ini mulai berubah, khususnya untuk BEV. Konsumen kini melihat mobil listrik bekas sebagai pilihan cerdas, terutama bagi mereka yang ingin mencoba teknologi ramah lingkungan tanpa mengeluarkan biaya besar.
Dampak Terhadap Pasar Otomotif Korea
Lonjakan penjualan mobil listrik bekas membawa beberapa dampak positif pada industri otomotif Korea Selatan:
-
Mendorong perputaran stok kendaraan listrik sehingga pabrikan dan dealer tetap memiliki pasar aktif.
-
Mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan karena konsumen kelas menengah kini punya akses lebih mudah.
-
Memicu inovasi pembiayaan di sektor mobil bekas, seperti kredit ringan dan layanan trade-in khusus BEV.
Kesimpulan
Tren penjualan mobil listrik bekas yang meroket di Korea Selatan menunjukkan bahwa pasar kendaraan ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada penjualan unit baru. BEV bekas menawarkan kombinasi harga terjangkau, biaya perawatan rendah, dan teknologi modern yang membuatnya semakin populer. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan peningkatan infrastruktur pengisian daya, kemungkinan besar tren ini akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.
Sumber : kumparan.com



